Ingin Saingi Kehandalan Listrik Singapura, TDL Harus Dinaikkan

Suhendra - detikFinance

Jakarta - PT PLN (Persero) mengungkapkan untuk bisa menyamai tingkat kehandalan listrik (tak byar pet) seperti negara-negara tetangga Malaysia dan Singapura yang memiliki kapasitas listrik terpakai dan cadangannya aman maka diperlukan tarif dasar listrik (TDL) 20% di atas biaya produksi.

Sementara saat ini kapasitas listrik di Indonesia justru defisit dengan tarif listrik jauh di bawah biaya produksi listrik.

"Kalau seandainya seluruh Indonesia tidak padam, itu kita hanya punya kapasitas pas-pasan. Kalau ada perusahaan listrik yang sehat mesti punya cadangan, misalnya Singapura antara yang nyala dengan siap-siap kapasitasnya sama," jelas Direktur Keuangan PLN Setio Anggoro Dewo dalam pemaparannya di Hotel Santika, Jakarta, Senin (7/6/2010).

PLN mengklaim TDL saat ini harga jualnya mencapai (rata-rata) Rp 657 per kwh, sedangkan biaya produksi PLN mencapai Rp 1.200 per kwh, artinya ada selisih harga yang menjadi subsidi sebesar Rp 543 per kwh.

Dikatakannya tarif 20% di atas biaya produksi bukan hanya menciptakan kehandalan bagi PLN, namun sebagai perusahaan tentunya akan memperkuat kondisi keuangan perseroan. Menurutnya beberapa pun subsidi listrik yang diberikan pemerintah hanya untuk memenuhi operasionalnya PLN saja.

"Selama kita bicara subsidi, kita tidak bisa bicara untuk tumbuh," tegas Dewo.

Ditegaskannya selama harga jual listrik masih lebih rendah dari biaya produksi maka tak ada keuntungan bagi PLN sebagai sebuah perusahaan. Justru yang untung adalah pemerintah karena subsidinya akan rendah (APBN) alias berkurang.

Selama ini kata dia, langkah investasi PLN tidak menggunakan dana subsidi namun pakai dana lain termasuk pinjaman seperti obligasi. Sementara subsidi murni hanya untuk biaya operasional PLN.

Padahal dalam waktu 5 tahun ke depan investasi kelistrikan mencapai 30.000 MW, atau setiap tahunnya butuh daya listrik 6.000 MW atau capex yang diperlukan per tahunnya sebesar US$ 6 miliar.

"PLN kalau ngandalin subsidi, bisnisnya nggak akan tumbuh," ucapnya.

0 komentar:

Poskan Komentar