Makalah "Pengumpulan Data dan Hipotesis"

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Penulisan
Membuat suatu karya tulis ilmiah tidaklah mudah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :
a) kurangnya pengetahuan tentang metodologi penelitian
b) kurangnya pengalaman terutama dalam praktek penelitian secara benar
c) dan minimnya waktu dan dana penelitian
mungkin tidaklah berlebihan jika dikatakan bagi para pemula membuat karya tulis ilmiah masih dirasakan tugas yang sukar. Namun persepsi ini akan menjadi sebaliknya bila kita memahami prosedurnya dengan baik.
Pada dasarnya tujuan karya tulis ilmiah adalah melaporkan hasil kegiatan /penelitian ilmiah secara sistematis, jelas, padat dan benar. Tentunya didalam penyampaian pokok-pokok pikiran secara jelas tersebut memerlukan kalimat-kalimat yang jelas lugas dan benar jika dipandang dari segi tata bahasa. Oleh sebab itu dalam proses penyusunan karya tulis ilmiah diperlukan syarat kebahasaan.
Tulisan ilmiah merupakan tulisan yang didasarkan berdasarkan hasil pengamatan, peninjauan,penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya . sebuah Hipotesis dalam karya tulis ilmiah apabila :
a. disertakan fakta dan data yang bukan merupakan khayalan atau pendapat pribadi
b. disajikan dengan bentuk ilmiah, obyektif atau apa adanya
c. menggunakan bahasa baku (ilmiah), lugas dan jelas.



1.2 Perumusan Masalah
Sesuai dengan judul makalah ini “Pengumpulan Data dan Hipotesis”, maka masalahnya dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Pengumpulan data dan Hipotesis?
2. Bagaimana Tehnik dalam Pengumpulan data dan hipotesis ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
1.3.1 Tujuan dari Penulisan ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian tentang pengumpulan data dan hipotesis.
2. Untuk mengetahui gambaran mengenai langkah-langkah penelitian ilmiah menggunakan teknik pengumpulan data dan Hipotesis
1.3.2 Manfaat Penulisan ini adalah :
1. Bagi penulis, penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar untuk penulisan karya ilmiah dengan teknik pengumpualan data dan hipotesis
2. Bagi masyarakat, diharapkan dapat menambah referensi pengetahuan dan informasi untuk memperluas wawasan pembaca pada umumnya.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pengumpulan Data

Kegiatan pengumpulan data pada prinsipnya merupakan kegiatan penggunaan metode dan instrumen yang telah ditentukan dan diuji validitas dan reliabilitasnya. Secara sederhana, pengumpulan data diartikan sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi lokasi penelitian sesuai dengan lingkup penelitian. Dalam prakteknya, pengumpulan data ada yang dilaksanakan melalui pendekatan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dengan kondisi tersebut, pengertian pengumpulan data diartikan juga sebagai proses yang menggambarkan proses pengumpulan data yang dilaksanakan dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.
Pengumpulan data, dapat dimaknai juga sebagai kegiatan peneliti dalam upaya mengumpulkan sejumlah data lapangan yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (untuk penelitian kualitatif), atau menguji hipotesis (untuk penelitian kuantitatif). Merujuk pada pengertian di atas, betapa pentingnya pengumpulan data dalam proses penelitian. Tanpa data lapangan, proses analisis data dan kesimpulan hasil penelitian, tidak dapat dilaksanakan. Ada perbedaan yang cukup mendasar mengenai pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Oleh karena itu, membahas pengertian pengumpulan data tidak hanya pada pemahaman pengertiannya saja, akan tetapi perlu dipahami juga, bagaimana pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif dalam pelaksanaannya tidak mesti harus langsung oleh peneliti, akan tetapi dapat dilakukan melalui pihak lain yang dipandang mampu atau kompeten dalam melaksanakan pengumpulan data. Atas dasar tersebut, maka instrumen penelitian yang akan digunakan, harus memenuhi syarat-syarat instrumen penelitian.





2.2 Pengertian hipotesis

Trealese (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai suatu keterangan semnatara dari suatu fakta yang dapat diamati. Good dan scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya. Kerlinger (1973) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variabel. Dari arti katanya, hipotesis memang dari dua penggalan. Kata “HYPO” yang artinya “DI BAWAH” dan “THESA” yang artinya “KEBENARAN” jadi hipotesis yang kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis. Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara , yang kebenarannya masih perlu di uji (di bawah kebenaran). Inilah hipotesis peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis. Peneliti mengumpulkan data-datadata yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul , peneliti akan menguji apakah hipotesis yang dirumuskan dapat naik status menjadi teas, atau sebaliknya tumbang sebagai hipotesis, apabila ternyata tidak terbukti.
Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan peneliti dapat bersikap dua hal yakni:
1. Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti (pada akhir penelitian). Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tandatanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).
2. Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tandatanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).


Untuk mengetahui kedudukan hipotesis antara lain :
• Perlu di uji apakah ada data yang menunjuk hubungan variabel penyebab dan variabel akibat.
• Adakah data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada ,memang ditimbulkan oleh penyebab itu.
• Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.
Apabila ketiga hal tersebut dapat dibuktikan, maka hipotesis yang dirumuskan mempunyai kedudukan yang kuat dalam penelitian.

G.E.R brurrough mengatakan bahwa penelitian berhipotesis penting dilakukan bagi :
 Penelitian menghitung banyaknya sesuatu
 Penelitian tentang perbedaan
 Penelitian hubungan.

2.3 Tujuan Pengumpulan Data dan Hipotesis
Suatu penelitian dikatakan empirik, manakala analisis dan kesimpulan hasil penelitian ditunjang oleh data-data lapangan. Hal inilah yang membedakan karya hasil penelitian dengan karya tulis ilmiah non penelitian, seperti makalah, artikel, dan sejenisnya. Dari pernyataan tersebut, kita dapat memahami betapa pentingnya penyajian data lapangan tersebut dalam sebuah laporan penelitian. Untuk memperoleh data lapangan tersebut, maka diperlukan proses pengumpulan data. Tanpa proses pengumpulan data, maka data lapangan yang diperlukan untuk analisis hasil penelitian, tidak akan diperoleh secara valid. Dari paparan tersebut, sampailah pada pemahaman konsep, betapa pentingnya proses pengumpulan data tersebut dalam penelitian.
Pengumpulan data ditujukan sebagai kegiatan untuk menggali fenomena, informasi, data lapangan, ataupun obyek penelitian sebagai dasar empiris dalam analisis data dan penarikan kesimpulan penelitian. Berbeda dengan penyusunan makalah, pembahasan dalam penelitian membutuhkan sejumlah data lapangan sebagai pijakan dalam proses perumusan kesimpulan. Atas dasar tersebut, maka keterampilan yang harus dimiliki seorang peneliti ataupun orang yang melakukan penelitian, adalah keterampilan dalam mengumpulkan atau menggali data-data lapangan sesuai dengan lingkup penelitian. Kegiatan pengumpulan data merupakan pekerjaan yang harus dilaksanakan secara tekun dan ulet dan kadang-kadang melelahkan. Karena kegagalan dalam melakukan pengumpulan data berarti kegagalan melaksanakan penelitian. Apabila pengumpul data sedikit saja melakukan kesalahan, misalnya kesalahan dalam sikap melakukan interviu, tentu akan mempengaruhi data yang diberikan oleh responden. Jika demikian maka kesimpulannya akan salah. Dengan demikian kegiatan pengumpulan data merupakan langkah pekerjaan dalam penelitian yang sangat penting dan menentukan hasil berikutnya. Sedangkan suatu hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang, memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian, memberikan arah kepada penelitian, memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.

2.4 Prinsip-prinsip Pengumpulan Data
Pengumpulan data penelitian sebagai salah satu bentuk kegiatan ilmiah tentunya tidak dapat dilakukan tanpa dasar, akan tetapi perlu didasarkan pada sejumlah kaidah atau prinsip yang mendasarinya. Proses pengumpulan data yang salah, akan mempengaruhi kesahihan data yang akan disajikan dalam laporan penelitian. Atas dasar tersebut, maka pelaksanaan pengumpulan data tersebut perlu merujuk pada prinsip-prinsip kegiatan ilmiah. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam proses pengumpulan data, yakni sebagai berikut:
a) Data-data yang digali atau dikumpulkan harus berdasarkan kondisi obyektif dari lokasi penelitian, jangan direka atau dikira-kira oleh pemikiran peneliti.
b) Alat pengumpul data atau instrumen penelitian harus relevan dengan tujuan penelitian. Oleh karena itu, instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian kuantitatif, harus melalui analisis try out (uji coba) instrumen. Pada umumnya, analisis uji coba instrumen, setidaknya menganalisis sisi validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keajegan). Sementara dalam penelitian kualitatif, kesahihan data lapangan sangat dipengaruhi oleh keterampilan peneliti dalam proses pengumpulan data. Oleh karena itu, terdapat perbedaan mendasar proses pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif dengan kualitatif.
c) Pihak-pihak yang dihubungi atau disebut sampel penelitian (untuk penelitian kuantitatif) dan subyek penelitian (untuk penelitian kualitatif) harus relevan dengan apa yang hendak diungkap. Misalnya, ketika penelitian ingin mengungkap keterampilan mengajar pada guru SD, maka yang menjadi sampel atau subyek penelitian adalah guru SD, bukan guru SMP, SMU atau kepala sekolah.
d) Prinsip kerahasiaan (confidencial), dimana nama-nama sampel atau responden penelitian harus dijamin kerahasiaannya. Oleh karena itu, sebaiknya untuk mengidentifikasi identitas sampel, sebaiknya digunakan kodefikasi.

Jenis-jenis Data Penelitian akan dihadapkan pada berbagai jenis data. Keragaman data lapangan yang Anda jumpai, tentunya harus diseleksi sesuai dengan sifat variabel yang akan diteliti. Misalnya, ketika Anda akan menggali data tentang kepemimpinan kepala sekolah, maka disana akan muncul data-data seperti nama, jenis kelamin, kualifikasi pendidikan, lama menjabat sebagai kepala sekolah, dan seterusnya.
Ragam data tersebut, tentunya memiliki karakteristik tersendiri dalam hal pengolahannya. Atas dasar tersebut, maka Anda perlu memahami jenis-jenis data penelitian.
Dilihat dari skala pengukuran yang akan digunakan, dapat dikelompokkan empat jenis data penelitian, yaitu: (1) data nominal; (2) data ordinal; (3) data interval; dan (4) data rasio.
1. Data Nominal
Ada data lapangan yang menggambarkan perbedaan berbagai hal berdasarkan pada kategori-kategori, tidak menunjukkan adanya kriteria urutan tinggi rendah dalam kedudukan. Skala nominal ini adalah metode kuantifikasi tingkat terendah. Contoh: setiap anggota dalam tim sepak bola, jenis kelamin (pria, wanita), agama, latar belakang pendidikan dan lain sebagainya. Itu semua hanya merupakan kategori dalam kelompok, tidak merupakan tingkatan paling tinggi sampai ke paling rendah.
2. Data Ordinal
Adalah data lapangan yang menyatakan perbedaan jumlah dan tingkatnya. Bisa pula merupakan urutan kedudukan klasifikasi yang bisa dinyatakan “lebih besar daripada atau lebih kecil daripada”. Data ordinal dinyatakan dalam bentuk posisi relatif atau urutan kedudukan dalam suatu kelompok: ke 1, ke 2, ke 3, ke 4, dan seterusnya. Ukuran ordinal dinayatakan dalam harga mutlak. Dapat Anda perhatikan contoh skala ordinal yang digambarkan sebagai berikut:




Data Tinggi Badan Nama Subjek Tinggi Badan (cm.) Selisih (cm.) Jenjang (Rengking)
Nono 172 - 1
Supriatno 169 3 2
Hasan Rohyadi 165 4 3
Undang Misdan 160 5 4
Budiman Sakti 158 2 5
Wawan
Surawan

3. Data Interval
Adalah data lapangan yang didasarkan pada unit-unit pengukuran yang sama, menunjukkan besar kecilnya suatu sifat atau karakteristik tertentu. Skala interval tidak memiliki harga nol mutlak. Misalnya perbedaan jarak karakteristik yang dimiliki siswa yang mencapai skor 90 dan 91, diasumsikan sama dengan perbedaan jarak karakteristik yang dimiliki oleh siswa yang mencapai skor 70 dan 71. Skala interval menunjukkan besarnya karakteristik yang sebenarnya.
4. Data Rasio
Data lapangan yang memiliki interval yang sama dengan skala interval, namun masih ada ciri lainnya yaitu bahwa, skala rasio memiliki harga nol mutlak, misalnya: titik nol pada skala sentimeter, menunjukkan tidak adanya panjang atau tinggi sama sekali. Ciri lainnya lagi dari skala rasio ini, yaitu skala rasio memiliki kualitas bilangan nyata (riil) yang dapat dijumlahkan, dikurangi, dikalikan, dibagi yang dinyatakan dalam hubungan rasio. Contoh: 10 gram sama dengan dua kali lima gram, tiga gram adalah separo dari enam gram, dan seterusnya.

Data penelitian juga dapat digolongkan ke dalam jenis data distkrit dan data kontinu. Banyaknya anak di suatu keluarga, jumlah rumah di suatu desa, banyak penduduk di suatu daerah, dan jumlah mobil di kantor tertentu adalah contoh data diskrit. Sedangkan tingkat kecerdasan, prestasi belajar, berat badan, daya tahan mobil merupakan contoh data kontinu.
Sesuai dengan nama yang digunakan, data diskrit bersifat terkotak-kotak, yaitu tidak dikonsepsikan adanya nilai-nilai di antara data (bilangan) yang satu dengan data (bilangan) lain yang terdekat. Misalnya, jika bilangan 2 dan 3 menunjukkan jumlah anak di keluarga A dan keluarga B, maka di antara kedua bilangan tersebut tidak ada bilangan-bilangan lain. Tidak pernah kita mengatakan bahwa jumlah anak di suatu keluarga adalah 2,4 atau 2,9.
Berbeda dengan data diskrit, di antara dua data kontinu dikonsepsikan adanya sejumlah nilai dengan jumlah yang tidak terhingga. Jika bilangan 2 dan 3 di atas menunjukkan berat suatu benda, maka di antara keduanya terdapat kemungkinan adanya sejumlah bilangan lain yang tidak terhingga, seperti 2,0001, 2,0002, 2,0010, dan seterusnya.
Dikatakan tidak terhingga jumlahnya, karena kemungkinan nilai yang terjadi memang terlalu banyak dan tidak dapat ditentukan. Jika kita mencatat data dalam 2 desimal di belakang koma, maka di antara angka 2 dan 3 akan terdapat 99 nilai. Coba bayangkan, jika setiap data harus dicatat dalam 5,10 atau 15 desimal di belakang koma.
Dilihat dari jumlah atau ukuran sampel penelitian, data dapat dibedakan ke dalam jenis data parametrik dan data non parametrik.
Data parametrik, adalah jenis data yang terukur, menggunakan tes statistik yang diasumsikan bahwa, data tersebut memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Tes parametrik digunakan untuk data berskala interval ataupun data berskala rasio.
Data nonparametrik, adalah jenis data yang dihitung atau diranking. Tes statistik nonparametrik merupakan tes bebas distribusi, tidak berdasarkan pada asumsi bahwa populasinya berdistribusi normal.
Tabel berikut menunjukkan ikhtisar tingkat-tingkat deskripsi kuantitatif dan jenis-jenis analisis statistik yang sesuai untuk setiap pengukuran (W. Besst, 1982: 252).
Tabel berikut menggambarkan rangkuman tingkat-tingkat deskripsi kuantitatif dan jenis analisis statistik yang sesuai untuk setiap pengukuran






Tingkat Skala Proses Pengolahan Data Tes Statistik Yang Sesuai

4 Rasio Mengukur Interval yang sama harga,non mutlak hubungan rasio Parametrik test Analisis –varian Analisis- kovarian Analisis faktor r Pearson
3 Interval Mengukur harga yang sama tanpa harga nol mutlak
2 Ordinal Meranking Urutan Nonparametrik Rho Spearman Mann-Whitney Wicoxon
1 Nominal Mengklasifikasi Chi

2.5 Sumber-sumber Data Penelitian

Sumber data dalam suatu penelitian adalah subyek penelitian dimana kita memperoleh data. Jika penelitian yang kita lakukan menggunakan wawancara atau kuesioner untuk pengumpulan data, orang yang menjawab kuesioner itu biasa disebut responden. Jika Anda menelitia menggunakan teknik observasi dalam pengumpulan datanya, maka sumber datanya bisa berupa benda atau proses.

Berdasarkan subyek data terdapat, sumber data dapat diidentifikasi menjadi tiga macam yaitu:
1. Sumber data berupa orang, sebagai sumber data yang bisa memberikan data berupa jawaban lisan melalui wawancara atau tertulis melalui angket.
2. Sumber data berupa tempat, sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam atau bergerak. Diam misalnya: ruangan, kelengkapan alat, wujud benda dan lain-lain. Bergerak, misalnya: aktivitas, kinerja, kegiatan pembelajaran dan lain-lain.
3. Sumber data berupa simbol, sumber data yang menyajikan tanda-tanda, misalnya berupa: huruf, angka, gambar atau simbol-simbol lainnya.

Berdasarkan wilayah sebagian atau seluruh sumber data, penelitiannya diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu: penelitian populasi, penelitian sampel dan penelitian kasus.
a) Penelitian Populasi
Populasi, merupakan keseluruhan subyek. Jika Anda ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitian yang dilakukan merupakan penelitian populasi atau studi populasi. Contoh: Semua guru SD yang terdaftar mengikuti program penyetaraan D2. Jadi Pengambilan data dalam penelitian populasi, meliputi segala sesuatu yang ada dalam populasi. Dengan demikian subyeknya meliputi semua yang ada dalam populasi, yang secara garis besar (menurut Arikunto, 1997), digambarkan sebagai berikut:

Penelitian dikenakan pada obyek dalam populasi, hasilnya dianalisis, disimpulkan, kesimpulan berlaku untuk seluruh populasi.
b) Penelitian sampel
Penelitian sampel yaitu penelitian terhadap sebagian dari populasi. Sampel disini merupakan bagian atau wakil populasi yang diteliti. Penelitian sampel dilakukan dan hasilnya digeneralisasikan berlaku untuk populasi. Generalisasi maksudnya adalah mengangkat kesimpulan dari hasil penelitian sampel diberlakukan pada populasi. Contoh: Guru SD di Kecamatan Kemangkon (sampel) pada tahun 2002 masih banyak yang belum mengikuti program D2 penyetaraan. Kesimpulan ini sesungguhnya tidak hanya berlaku di Kecamatan Kemangkon, tetapi dapat diberlakukan untuk guru SD di Kabupaten Purbalingga (populasi) pada tahun-tahun sebelumnya.
Untuk lebih jelasnya coba perhatikan diagram berikut.

Penelitian sampel dilakukan apabila keadaan subyek dalam populasi benar-benar homogen. Jika subyek dalam populasi tidak homogen maka kesimpulan tidak boleh digeneralisasi berlaku untuk populasi.
c) Penelitian Kasus
Penelitian kasus merupakan penelitian yang dilakukan secara intensif, lebih mendalam dan lebih rinci terhadap suatu kasus atau gejala tertentu. Penelitian kasus sesungguhnya meliputi subyek yang lebih sempit, tetapi sifatnya mendalam.
Contoh yang dikemukakan oleh Arikunto (1997) sebagai berikut: “disuatu kelas terdapat seorang siswa yang sangat menonjol, lain dari yang lain. Jika diajar tidak pernah tenang, sifatnya keras, suka membantah, tetapi prestasinya luarbiasa baik”.
Siswa seperti itu cocok dijadikan subyek dalam penelitian kasus. Dalam penelitian ini siswa diselidiki apa sebabnya siswa tersebut mempunyai tingkah laku seperti itu. Bagaimana latarbelakang dan sejarahnya, dan seterusnya. Contoh lain misalnya dilakukan terhadap suatu sekolah, misalnya penelitian tentang pelaksanaan MBS di SD 1 Kemangkon. Penelitian demikian dapat dipandang sebagai penelitian kasus. Kesimpulan yang akan dihasilkan hanya berlaku untuk sekolah tersebut.
2.6 Jenis-jenis hipotesis
Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian antara lain :
1. Hipotesis kerja atau alternatif ,disingkat Ha, hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.
Rumusan hipotesis kerja
a) Jika... Maka...
b) Ada perbedaan antara... Dan... Dalam...
c) Ada pengaruh... Terhadap...
2. Hipotesis nol (null hypotheses) disingkat Ho.
Hipotesis ini menyatakan tidak ada perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y
Rumusannya:
a) Tidak ada perbedaan antara... Dengan... Dalam...
b) Tidak ada pengaruh... terhadap...

Saran untuk memperoleh hipotesis:
1. Hipotesis induktif
Dalam prosedur induktif, penelitian merumuskan hipotesis sebagai suatu generalisasi dari hubungan-hubungan yang diamati
2. Hipotesis deduktif
Dalam hipotesis ini,peneliti dapat memulai penyelidikan dengan memilih salah satu teori yang ada dibidang yang menarik minatnya,setelah teori dipilih, ia lalu menarik hipotesis dari teori ini.
2.7 Ciri-ciri hipotesis
Ciri-ciri hipotesis yang baik:
1) Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
2) Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel-variabel.
3) Hipotesis harus dapat diuji
4) Hipotesis hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.
5) Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.

2.8 Menggali dan merumuskan hipotesis

Dalam menggali hipotesis, peneliti harus:
a. Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.
b. Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki.
c. Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuaia dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.

Good dan scates memberikan beberapa sumber untuk menggali hipotesis :
1) Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam tentang ilmu
2) Wawasan serta pengertian yang mendalam tentang suatu wawasan
3) Imajinasi dan angan-angan
4) Materi bacaan dan literatur
5) Pengetahuan kebiasaan atau kegiatan dalam daerah yang sedang diselidiki.
6) Data yang tersedia
7) Kesamaan




BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
beberapa petunjuk dalam merumuskan hipotesis dapat diberikan sebagai berikut :
1. Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan padat serta spesifik
2. Hipotesis sebaiknya dinyatakan dalam kalimat deklaraif dan berbentuk pernyataan.
3. Hipotesis sebaiknya menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat diukur.
4. Hendaknya dapat diuji
3. Hipotesis sebaiknya mempunyai kerangka teori.




DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsjad dan Sakura H. Ridwan. (1988). Pembianaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia, Jakarta : Penerbit Erlangga.

Arifin, Zaenal dan Amran Tasai. (2008). Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta : Akademi Pressindo.
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=pengumpulanndata
http://id.wikipedia.org
http://id.wikipedia.org/hipotesis

1 komentar:

RaNty mengatakan...

pak,,mau tanya..
kalo sy mempunyai judul faktor2 apa saja yg dapat menyebabkan Rework dalam proyek konstruksi.. metode atau teknik statistik apa yang bisa digunakan untuk perhitungannya???
apakah analisis regresi?
ANOVA??
T-Test?
atau
CHI-Square??

terimakasih pak pencerahannya..
saya bingung sekali ini..

Poskan Komentar